Tersebutlah dewi Amba yang ditolak cintanya baik oleh prabu Salva maupun oleh Bisma menjadi hancur hatinya. Apalagi setelah mendengar anjuran Resi Ramaparasu, malahan makin menjadi tambah bingung, jengkel, bercampur sedih, malu dan benci penuh dendam, akhirnya frustasi dan putus asa. Benar-benar remuk redamlah rasa hati seorang yang tak terbalas cintanya. Ia duduk-duduk di pinggir sungai Jamuna sambil melamun merenungi nasib sialnya.
Setelah ia mawas diri, maka akhirnya sampailah pada satu pilihan dan putusannya yang mantap, yaitubertekad untuk membunuh Bisma. Dewi Amba segera bersemadi memohon kepada Sang Maha Batara Agung untuk memberi kesaktian agar ia mampu membunuh atau paling tidak harus dapat membuat malu Bisma.
Ternyata permintaannya dikabulkan oleh Dewata Agung. Ia mendapat bisikan, bahwa kelak hidup tumimbalnya (inkarnasinya) akan mampu mengalahkan dan membunuh Bisma. Siapakah inkarnasinya? Tidak lain adalah Wara Srikandi putri prabu Drupada dari negeri Pancalaradya. Mendengar suara gaib itu,” ia tak puas dan tidak sabar. Terlalu lama menunggu saat dimulainya Baratayuda. Karena itu setelah pikir-pikir tidak ada jalan lain baginya kecuali bunuh diri saja, agar lekas mengalami hidup tumimbalnya. Dewi Amba segera memasang api unggun di lembah. Setelah api unggun menyala, kemudian ia naik ke puncak menara dan terjun bebas ke dalam lautan api, tamatlah riwayatnya, sedang sukmanya mengembara mencari Wara Srikandi.



